Semua tulisan dari Tim Redaksi

Penulis / Redaktur : Heru Kurniawan, S.Kel, M.Han (Dosen FPIK UPS Tegal), Muhtarom, S.Kom, M.H (Staf Operator FPIK), Edy Prayitno, S.H, M.H (Staf FPIK) Musriasih, S.H (Staf FPIK)

Perkuliahan Mahasiswa FPIK UPS Tegal T.A 2019/2020

Pembukaan perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2019/2020 telah berlangsung  dengan baik dimana sebelumnya Dekanat dan Staf Dosen FPIK Universitas Pancasakti Tegal sudah berbenah dalam mempersiapkan kegiatan perkuliahan tahun akademik 2019/2020.

Kegiatan yang sudah terencana baik diantaranya adalah menerima dan mengarahkan secara akademik bagi mahasiswa yang sudah masuk semester ganjil ini, sehingga diharapkan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sudah siap untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan baik seperti juga praktek dan melakukan penelitian di laboratorium FPIK UPS.

Kemudian akan dilaksanakannya proses Akreditasi Progdi PSP dan BDP yang telah di Rekonstruksi dari Tim Akademisi dari berbagai lembaga yang berkompeten dibidangnya sehingga akan lebih menyesuaikan pada Kurikulum KKNI.

Rekonstruksi Kurikulum BDP (Budidaya Perairan)  FPIK UPS Tegal  pada hari Selasa (03/09) yang bertempat di Gedung Lt.1 H.102. Acara Rekonstruksi Kurikulum ini di Moderatori Dr. Ir. Sutaman, M.Si yang juga Dosen FPIK progdi BDP yang menjabat sebagai Dekan.

Sebagai Nara Sumber Rekonstruksi Kurikulum Progdi BDP adalah Dr. Petrus Hari Tjahya Purnama, M.Si Dosen dan Kepala Bidang Kurikulum FPIK Unsoed Purwokerto. Acara rekonstruksi kurikulum Progdi BDP juga diadakannya Penandatanganan Kerjasama / MoU Tentang “Pengembangan Pusat Study Kepiting Bakau Kerjasama antara Prodi BDP FPIK dan Sekolah Alam Kaliwlingi Pandansari Brebes”

Berbagai perubahan paradigma dalam menyusun / merekonstruksi kurikulum Budidaya Perikanan berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia / KKNI.

Tiga Fase Perkembangan Kurikulum

Artikel oleh Tim Redaksi / 03 September 2019

Riwayat pengembangan kurikulum telah melalui tiga fase sejak tahun 1994 (Kurikulum Nasional), tahun 2000/2002 (Kurikulum Inti dan Institusional), kemudian yang terakhir pada tahun 2012 (Kurikulum Pendidikan Tinggi). Tentunya perubahan yang ada merupakan suatu dinamika untuk suatu tujuan mulia yaitu menyiapkan generasi yang professional di bidangnya dan memiliki daya saing global.

Bagi perguruan tinggi yang lahir sebelum tahun 1994 maka akan mengalami 3 fase perubahan tersebut. Suatu upaya yang tidak mudah untuk mentransformasikan kurikulum dari suatu ke bentuk ke bentuk lainnya (sebagian lainnya mengatakan bahwa transformasi kurikulum adalah sangat mudah karena hanya fokus pada format atau narasi dalam penyusunannya).

Walaupun dalam penyusunannya telah melibatkan beberapa stakeholder / fihak-fihak yang berkepentingan. Toh, pada akhirnya mata kuliahnya tidak banyak berubah dan perlu penyesuaian sedikit saja (kata sebagian orang).

Namun, pernahkan terfikirkan oleh kita selaku pengajar, atau pengelola perguruan tinggi, atau pengambil keputusan bahwa kurikulum bukanlah hanya secarik kertas yang bisa dihapus atau disusun ulang mengikuti format baru yang ada, ia merupakan seperangkat alat pembelajaran yang mengintegerasikan berbagai sumberdaya untuk mengolah masukan menjadi luaran yang memiliki nilai tambah Sehingga ada konsekwensi di dalam pemberlakuannya.

Apakah kita semua bisa menjawab bahwa dengan pemberlakuan kurikulum baru maka akan meningkatkan daya serap lulusan oleh lapangan pekerjaan? Ataukah, dapat menaikan Indeks Prestasi Kumulatif lulusan mahasiswanya? Ataukah, dapat memetakan posisi perguruan tinggi kita dengan rumpun ilmu sejenis?

Tentu semua pertanyaan tersebut akan sulit kita jawab, karena tidak ada patokan resmi untuk mengukurnya secara numeris. Yang ada hanyalah patokan normatif yang tertera pada butir penilaian borang akreditasi perguruan tinggi. (mudah-mudahan pendapat saya tidak salah).

Dapat dikatakan juga bahwa acuan baku isi kompetensi pada kurikulum yang diterjemahkan ke dalam perangkat pembelajaran tidak sepenuhnya ada, sehingga apa yang terjadi adalah bahwa pengubahan kurikulum akan tergantung dari pengalaman dan pemahaman team penyusun kurikulum saja, atau akan tergantung juga dari para pemangku kepentingan yang ada, ataupun mencontek dari program studi yang telah lahir duluan (tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang mempengaruhinya).

Tidak jarang pemunculan atau penghilangan suatu mata kuliah demi tujuan prestise saja (karena issue nasional ataupun melebarkan sayap kompetensi tanpa fokus pada program studi yang ada). Bahkan tidak jarang, muatan inti pembelajaran yang ada telah bergeser jauh dari program studi yang ada. Hal ini terjadi karena beberapa faktor eksternal dan faktor internal di institusi pendidikan yang ada, walaupun rambu-rambu normatif telah ada.

Konsorsium perguruan tinggi yang ada lahir karena kesamaan sifat rumpun ilmu. Karena sifatnya sama maka budaya tiru-meniru kurikulum pun terjadi (bukan merupakan kekeliruan), namun jika ditilik lebih detail lagi maka akan berbeda karakteristik program studinya karena fasilitasnya berbeda, dosennya berbeda, mahasiswanya berbeda, perbedaan budaya dan pendanaannya.

Yang terjadi adalah bukannya saling mengisi kekosongan untuk membangun negara lewat pengayaan program studi, namun persaingan normatif, yang menurut hemat saya akan sulit untuk mengejar perbedaannya karena beberapa karakteristik dan parameter yang berbeda.

Sehingga pola pendekatan yang saya usulkan adalah keanekaragaman program studi dalam satu rumpun ilmu melalui penguatan karakteristik kompetensi lokalnya. Pola pendekatan ini tidaklah baru karena jalur pendidikan SMK telah memulainya terlebih dahulu (padahal dari sejarah lahirnya yang seharusnya menerapkannya terlebih dahulu adalah jalur pendidikan diploma).

Pola pendekatan ini tidak bersifat slogan atau normatif, karena bisa diukur melalui suatu nilai numeris untuk memetakannya. Alat ukurnya sudah ada di Indonesia melalui LSP-LMI, yang secara kebetulan sudah saya ikuti sejak tahun 2001 lewat proyek IAPSDP / Indonesia Australia Partership for Skill Development Program  (merupakan team kecil yang ada di Politeknik Manufaktur Bandung). [Dapat dibuka pada menu kompetensi blog ini] :

https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeNzI3YjBlZTktNDU4Ni00Y2EyLTgxODAtMTI2MzdjZWE1NDgz]

Rekonstruksi Kurikulum Prodi PSP FPIK UPS Tegal

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pancasakti Tegal (UPS) menyelenggarakan Lokakarya Rekonstruksi Kurikulum Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Selasa (6/8). Dekan FPIK Dr. Ir. Sutaman, M.Si dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini untuk menuntun perumusan kurikulum baru FPIK. Kegiatan ini dipusatkan di Ruang Sidang Gedung H.101 Lantai.1. Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M. Sc (Guru Besar FPIK IPB Bogor), Ibnu Maulana dan Denis Denutoha (BPPP TEGAL),  Henry Iskandar (SUPM Tegal) juga dihadiri dari DKPPP Kota Tegal yaitu Indirrani. W, S.Pi dan Eva Kholifah, S.Pi.

Dalam membahas dan menyampaikan materi “Pembuatan dan Pengembangan Kurikulum KKNI”. Dikatakan Prof. Baskoro, KKNI ditetapkan presiden pada tanggal 17 Januari 2012 dalam PP Nomor 8 tahun 2012.”Sejak tahun 2004 dalam penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) banyak yang terjebak pada rekonstruksi mata kuliah, namun proses pembelajaran tidak diubah dan dievaluasi, untuk itu pada kurikulum berbasis KKNI kita ditantang untuk membuat dan mengembangkan kurikulum baru,” katanya.

Didampingi oleh Dr. Ir. Suyono, M.Pi (Wakil Rektor Bidang Akademik) Kaprodi PSP FPIK UPS Ir. Retno Budhiati, M.Pi menyampaikan KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kerja yang menyandingkan, menyetarakan, mengintegrasikan, sektor pendidikan dan pelatihan serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan jabatan kerja di berbagai sektor. Hal tersebut merupakan perwujudan mutu dan jati diri bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan serta program peningkatan SDM secara nasional.

Yang dimaksud dengan jenjang kualifikasi adalah tingkat capaian pembelajaran yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan ukuran hasil pendidikan dan/atau pelatihan yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja. Deskripsi capaian pembelajaran dalam KKNI diharapkan meliputi empat unsur yaitu sikap dan tata nilai, kewenangan dan tanggung jawab, penguasaan pengetahuan, serta kemampuan kerja.

FPIK UPS TEGAL ADAKAN SEMINAR NASIONAL

Senin, 5 Agustus 2019: Dalam Rangka Kegiatan Ekspedisi Pesisir Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI) Wilayah III, BEM FPIK UPS Tegal mengadakan Seminar Nasional bertempat di Auditorium Darijoen Senoatmojo UPS Tegal yang dihadiri Ketua Kordinator Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI) Wilayah III Valih Nasrullah Mahasiswa FPIK Unsoed Purwokerto.

Seminar Nasional yang diadakan hari Senin 5 Agustus 2019 dengan Tema “Mewujudkan Pengembangan Perikanan dalam Meningkatkan Potensi Sumber Daya Manusia Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”

Dengan Nara Sumber dan Pembicara yang ahli dibidang bahari diantaranya : Ir. Nilanto Perbowo, M. Sc (Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia),
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M. S (Ketua Masyarakat Aquaculture Indonesia & Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Periode 2001-2004), Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M. Sc (Guru Besar FPIK IPB Bogor) dan Dr. Ir. Suyono, M. Pi (Akademisi/ FPIK UPS Tegal) beserta Moderator : Noor Zuhry, S. Pi, M. Si (Dosen FPIK UPS Tegal).

Sebagai rangkaian awal Kegiatan Ekspedisi Pesisir oleh HIMAPIKANI WIL III dan BEM FPIK UPS Tegal yang dimulai dengan Pembukaan Ekspedisi Pesisir, Observasi Lapangan dan Riset mengenai permasalahan yg ada di masyarakat terutama di bidang Budidaya dan Pengolahan Perikanan. Demikian ulasan Ketua Panitia Seminar Nasional  Nur Auva Ulul Albab Mahasiswa BDP semester tujuh FPIK UPS Tegal dalam sambutannya. (5/Agustus) Red.

Pengertian, Fungsi dan Tipe Cache Komputer

Pengertian, Fungsi, dan Tipe Cache pada Komputer

Disunting oleh Redaksi

cache

Cache adalah memory berukuran kecil yang sifatnya temporary (sementara). Walaupun ukuran filenya sangat kecil, namun kecepatannya sangat tinggi. Dalam terminologi hardware, istilah ini biasanya merujuk pada memory berkecepatan tinggi yang menjembatani aliran data antara processor dengan memory utama (RAM) yang biasanya memiliki kecepatan jauh lebih rendah.

Penggunaan cache ditujukan untuk meminimalisir terjadinya bottleneck dalam aliran data antara processor dan RAM. Sedangkan dalam terminologi software, istilah ini merujuk pada tempat penyimpanan sementara untuk beberapa file yang sering diakses (biasanya diterapkan dalam network). Cache umumnya terbagi menjadi beberapa jenis, seperti L1 cache, L2 cache dan L3 cache.

Fungsi Cache

Cache berfungsi untuk mempercepat akses data pada komputer karena cache menyimpan data atau informasi yang telah di akses oleh suatu buffer, sehingga meringankan kerja processor. Jadi Bisa disimpulkan fungsi cache memory yaitu:

  • Mempercepat akses data pada komputer
  • Meringankan kerja prosessor
  • Menjembatani perbedaan kecepatan antara CPU dan memory utama
  • Mempercepat kinerja memory

Tipe-Tipe Cache

Ada beberapa tipe cache yang biasa digunakan, diantaranya:

  1. Memory Cache

Memory cache sering pula disebut dengan RAM cache. Ini adalah sebuah porsi memori yang dibuat dengan kecepatan tinggi static RAM (SRAM). Tipe cache ini lebih efektif karena hampir semua program dapat mengakses data atau perintah yang sama berulang kali. Itu artinya, semakin banyak informasi yang disimpan di SRAM, maka komputer akan semakin sering menggunakan cache ini ketimbang menggunakan DRAM yang relatif lebih lambat.

Cache memori mempunyai tiga level. Anda tentu pernah melihat label L1 Cache, L2 Cache atau L3 Cache di kotak perangkat komputer Anda atau di paket informasi spesifikasinya. L1 adalah sebutan untuk internal cache, ia menghuni bagian di antara CPU dan DRAM. Cache ini memiliki kecepatan akses paling tinggi. Ukuran memori berkembang mulai dari 8Kb, 64Kb dan 128Kb.

Sedangkan L2 adalah eksternal cache yang mempunyai kapasitas lebih besar yaitu berkisar antara 256Kb sampai dengan 2Mb. Namun soal kecepatan, L2 justru lebih lamban ketimbang L1. Terakhir, L3 Cache yang biasanya terdapat dalam komputer model baru yang mempunyai lebih dari satu unit prosesor, misalnya dual core atau quad core. L3 berfungsi sebagai pengatur data yang diakses dari L2 cache dan masing-masing inti prosesor.

  1. Disk Cache

Tidak jauh berbeda dengan Memory Cache, Disk Cachejuga berpatokan pada prinsip yang sama. Tetapi alih-alih menggunakan data berkecepatan tinggi SRAM, disk cache justru menggunaan memori konvensional atau disebut dengan dynamic RAM (DRAM) yang relatif lebih lambat. Cara kerjanya, ketika Anda menjalankan sebuah aplikasi yang membutuhkan data dari disk, pertama-tama aplikasi akan memeriksa ketersediaan datanya di memory buffer. Disk Cachemampu memberikan dampak kecepatan yang signifikan terhadap performa aplikasi, sebab mekanisme ini jauh lebih cepat daripada mengambil data dari komponen harddisk.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda pelajari mengenai cache pada komputer. Cache memiliki fungsi penting dalam sebuah komputer, sama halnya dengan web hosting pada sebuah website. Kini, Anda dapat mendaftarkan website Anda menggunakan web hosting terpercaya dan termurah di Indonesia yaitu Idwebhost. Banyak sekali kelebihan yang dimiliki Idwebhost untuk membantu mengembangkan website bisnis Anda seperti dukungan 24 jam, server yang handal, uptime hingga 99,99% dan masih banyak lagi. Daftarkan website Anda menggunakan layanan web hosting terbaik hanya di sini.

Meningkatkan Performa Website – Minify CSS, HTML dan JavaScript

Pengenalan

Minify adalah istilah pemrograman yang artinya adalah proses menghilangkan karakter yang tidak diperlukan dalam kode untuk dieksekusi. Melakukan minify code akan mempercepat kecepatan loading website Anda, efeknya, pengunjung Ada akan senang begitu juga dengan mesin pencari. Singkatnya, proes ini akan menghapus semua karakter white space, baris baru, komentar & delimiter dari kode Anda. Tipe karakter ini digunakan agar kode Anda bisa mudah dibaca, namun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan dan tidak dieksekusi oleh kode. Sehingga, proses minify ini mampu menigkatkan kecepatan download, parsing dan waktu eksekusi website Anda.

Yang Anda butuhkan

Sebelum memulai, yang Anda butuhkan adalah:

  • Akses FTP

Langkah 1 – Mencari file CSS, HTML, JavaScript yang belum di-minify

Untuk langkah ini, kami rekomendasikan agar Anda menggunakan GTMetrix, yang juga kami gunakan untuk percobaan dengan hasil sebagai berikut:

minify-css-1.

minify-js-1.

Langkah 2 – Mengganti file yang belum di-minify

PENTING! Keamanan harus selalu jadi yang utama. Sebelum Anda melakukan perubahan apapun, pastikan Anda sudah mem-backup website WordPress Anda atau backup file yang ingin Anda ganti.

Opsi 1 – Ganti secara manual

Hal yang keren dari GTMetrix adalah Anda bisa melihat langsung versi CSS, JS dan HTML yang sudah di optimasi hanya dengan menekan tombol See optimized version di sebelah nama file. Setelah itu, file yang telah dioptimasi akan bisa di-download/dibuka di browser. Dengan mengunakan aplikasi FTP, ganti file yang lama dengan nama file yang sama dengan sebelumnya.

Opsi 2 – Plugin CMS

Pengguna WordPress bisa menggunakan plugin seperti Better WordPress Minify atau W3 Total Cache untuk mendapatkan hasil yang sama. Anda bisa mengikuti panduan ini untuk instruksi lebih detail mengenai cara meng-install plugin W3 Total Cache.

Opsi 3 – CloudFlare

CloudFlare – layanan gratis yang mampu mempercepat dan melindungi website Anda dengan cara menjadi proxy antara pengunjung dan server hosting. CloudFlare menawarkan perlindungan terhadap serangan DDoS dan uniknya layanan ini bersifat gratis. Salah satu fitur yang termasuk di paket gratisnya adalah tool untuk minify CSS, HTML dan JS. Anda bisa mengaktifkan minification resource melalui menu Performance -> Auto-Minify:

CloudFlare Performance section.

CloudFlare Auto Minify.

PENTING! Anda tidak direkomendasikan untuk menggunakan fitur Auto-Minify dari CloudFlare jika Anda sudah menggunakan plugin minify seperti W3 Total Cache. Selain itu, CloudFlare tidak melakukan minify terhadap script milik pihak ke-3 dan link (Facebook & Twitter).

Langkah 3 – Menguji perubahan

Setelah mengganti file/kode dengan versi yang telah di-minify, hal terakhir yang harus dilakukan adalah melakukan test. Ini bisa dilakukan dengan cara melakukan test lagi dengan GTMetrix. Sebagai perbandingan, setelah file diganti, hasilnya akan menjadi seperti ini:

minify-css-2.

minify-js-2.

Kesimpulan

Dalam panduan singkat ini, kita telah mempelajari bagaimana cara meningkatkan performa website Anda dengan cara melakukan minify CSS, JavaScript dan HTML. Download

Dunia Teknologi Informasi: Mengenal Web Server

TEKNOLOGI INFORMASI

Disunting oleh Redaksi

Apa itu LiteSpeed Web Server-01

LiteSpeed saat ini menjadi web server yang cukup dipertimbangkan menjadi komponen untuk membangun situs web. Kinerja yang handal dan fitur-fitur LiteSpeed yang lengkap membuatnya dapat bersaing dengan Apache yang sudah hampir digunakan lebih dari 4 juta pengguna. Bahkan, LiteSpeed dapat bekerja beberapa kali lebih cepat dibandingkan Apache. Apa itu LiteSpeed dan apa saja fitur-fitur dan keunggulan LiteSpeed? Kita juga akan membahasnya pada artikel ini beserta perbandingan antara LiteSpeed Vs Apache.
Lanjutkan membaca Dunia Teknologi Informasi: Mengenal Web Server

Pengaruh Pakan Alami dan Pakan Buatan dalam Budidaya Ikan

  • Dilihat: 3906
  • 05 Jul

Pengelolaan pakan merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya ikan, karena ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan pada ikan dalam sistem produksi, berupa: ikan yang sehat, tumbuh optimal dan berkualitas tinggi. Ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya ikan. Pakan berkualitas harus memiliki kandungan nutrisi ikan dan mudah dicerna, sehingga dapat diserap oleh tubuh ikan (Khairuman dan Amri, 2002).

Kegiatan budidaya ikan sistem KJA dianggap menjadi faktor utama terjadinya pencemaran perairan. Kegiatan budidaya ikan sistem KJA yang dikelola secara intensif juga membawa konsekuensi penggunaan pakan yang besar yang bagaimanapun efisiensinya rasio pemberian pakan, tidak seluruh pakan yang diberikan akan termanfaatkan oleh ikan-ikan peliharaan dan akan jatuh ke dasar perairan.

Pakan ikan merupakan penyumbang bahan organik tertinggi di waduk (80%) dalam menghasilkan dampak lingkungan. Jumlah pakan yang tidak dikonsumsi atau terbuang di dasar perairan oleh ikan sekitar 20–50%. Limbah dari pakan dan faeces ikan akan terakumulasi dan menurunkan kualitas perairan. Peningkatan jumlah aktivitas budidaya ikan menggunakan KJA, mengakibatkan peningkatan jumlah beban cemaran yang akan dibuang ke perairan. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh jarak antar KJA, jumlah padat tebar ikan, dan manajemen pemberian pakan (Erlania,dkk.,2010). Jumlah padat tebar ikan yang tinggi dengan manajemen pakan yang buruk mengakibatkan perairan menjadi keruh dan tercemar. Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu.

Pengurangan jumlah KJA akan mengurangi jumlah beban cemaran nitrogen dan fosfor ke perairan waduk. Hal tersebut menyebabkan eutrofikasi dan pencemaran biologis (akumulasi enceng gondok) dapat dikurangi.  Proses penguraian bahan organik tersebut memerlukan jumlah oksigen yang tinggi. Hal tersebut mengakibatkan kondisi di dasar perairan menjadi anaerobik, sehingga DO mengalami penurunan. Kondisi anaerobik akan menghasilkan senyawa toksik yaitu H2S dan amonia (Demetrio et.al, 2011). Jadi, diperlukan manajemen pemberian pakan, jenis pakan yang diberikan, dan frekuensi pemberian pakan guna mengurangi bahan organik yang terbuang di perairan.

Perairan dengan KJA memiliki bahan organik lebih tinggi dibandingkan dengan perairan terbuka, dan kawasan yang terdapat enceng gondok. Hal tersebut didukung dengan tingkat kecerahan air dan kedalaman air waduk. Peningkatan nilai kecerahan dan penurunan kedalaman air waduk menyebabkan peningkatan bahan organik. Cahaya matahari yang masuk ke perairan menyebabkan cepat terjadinya proses fotosintesis. Proses fotosintesis mempengaruhi peningkatan produktivitas primer di perairan yang ditandai dengan peningkatan unsur hara (bahan organik), menunjukkan perairan tersebut telah tercemar. Suatu limbah yang mengandung beban pencemar masuk ke lingkungan perairan dapat menyebabkan perubahan kualitas air. Salah satu efeknya adalah menurunnya kadar oksigen terlarut yang berpengaruh terhadap fungsi fisiologis organisme akuatik. Air limbah memungkinkan mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia beracun berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit infeksi dan tersebar ke lingkungan.

Pemberian pakan yang dilakukan secara adbilitum (terus menerus hingga ikan betul-betul kenyang) menyebabkan banyak pakan yang terbuang (inefisiensi pakan) dan terakumulasi di dasar perairan. Sisa pakan yang tidak termakan dan ekskresi yang terbuang pada akhirnya akan diuraikan oleh jasad-jasad pengurai yang memerlukan oksigen. Dalam kondisi anaerobik penguraian akan berjalan dengan baik, namun dari proses anaerobik ini dihasilkan berbagai gas beracun yang dapat mencemari perairan danau/waduk. Disamping hal tersebut, sisa pakan dan buangan padat ikan akan terurai melalui proses dekomposisi membentuk senyawa organik dan anorganik, beberapa diantaranya senyawa nitrogen dan fosfor. Senyawa-senyawa nitrogen dan fosfor diperlukan oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Di perairan fitoplankton merupakan produsen primer yang mempengaruhi kelimpahan organisme. Sisa-sisa pakan dan kotoran ikan dari KJA berperan sebagai pupuk yang dapat menyuburkan perairan danau/waduk. Apabila dalam keadaan hipertropik berakibat pertumbuhan yang tidak terkendali (blooming) plankton jenis tertentu.

Perairan yang tergolong sangat subur (hipereutrofik) termasuk penyebab pencemaran perairan. Frekuensi pemberian pakan sebanyak  3 kali sehari termasuk efektif untuk pertumbuhan dalam pembesaran ikan di KJA. Frekuensi pemberian pakan lebih dari 3 kali sehari dapat meningkatkan FCR (feed conversion ratio) pakan, sehingga meningkatkan penumpukan limbah didasar perairan waduk. Pemberian pakan ikan secara ad libitum harus diatur dengan baik. Pakan harus habis terlebih dahulu baru diberikan kembali, jangan sampai meninggalkan pakan yang tidak termakan dalam jumlah banyak. Pakan yang tidak termakan akan terurai di perairan dengan meninggalkan konsentrasi fosfat yang tinggi. Selain itu jenis pakan tenggelam dalam pemeliharaan ikan. Penggunaan kombinasi pakan tenggelam dan terapung, atau pakan terapung dengan kadar fosfat yang rendah baik untuk dilakukan. Hal tersebut akan menekan jumlah fosfat di perairan, sehingga tingkat pencemaran dapat dikurangi.

Beberapa langkah teknis yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air dalam budidaya ikan di Karamba Jaring Apung agar tidak terganggu oleh limbah  pakan atau limbah lainnya, antara lain dapat berupa :

1. Pengelolaan pakan yang ramah terhadap kualitas air

  • Porsi makan ikan diberikan sesuai dengan daya tumbuh optimum perhari  (Average Daily Growth) atau porsi makan hanya diberikan 80% dari daya kenyang, sehingga masih tersedia ruang dilambung untuk produksi enzym-enzym pencernaan. Diharapkan efisiensi pakan 100% terserap sempurna.
  • Frekuensi pakan sesuai dengan metabolisme ikan 2 x sehari, metabolisme ikan berkisar 8 jam, bila waktu pemberian pakan 7 pagi dan 5 sore.
  • Pakan difermentasi menggunakan probiotik untuk menghasilkan enzim: protease, amilase, lipase dan cellulose. Sistem ini meringankan kerja dari organ pencernaan 30%, dan membantu pemotongan rantai panjang pada protein dan lemak, serta membantu menghasilkan kotoran ikan yang mudah terurai dan ramah lingkungan.

2. Pengelolaan wadah budidaya ikan yang ramah terhadap kualitas air

  • Penerapan Integrated Management Total Aquaculture yang dapat dilakukan dengan melakukan pemeliharaan multispesies dalam satu wadah (misalnya jaring bertingkat) sehingga buangan pakan pada jaring pertama (misal ikan omnivora) dapat dikonsumsi lagi terlebih dahulu oleh ikan pada jaring lapis kedua (misalnya herbivora), sehingga buangan sisa pakan ke dasar dapat diminimalisir.
  • Pengaturan lokasi ataupun jumlah petakan yang dapat dipelihara dengan memperhatikan daya dukung lingkungan perairan ataupun flushing rate waduk/danau tersebut sehingga tidak terjadi over populasi ikan yang dipelihara yang dapat meningkatkan limbah pakan ke dasar.
  • Pengaturan musim tanam, pengendalian jumlah KJA dan padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah seperti ikan patin, lele, dan betutu.

3. Penebaran ikan herbivora secara lepas seperti ikan grass carp yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem danau/waduk sehingga blooming akibat eutrofikasi dapat dicegah sedini mungkin.

4. Meningkatkan kadar oksigen terlarut di perairan. Pasokan oksigen dalam pengelolaan KJA adalah untuk respirasi biota, pembusukan feses ikan dan pembusukan sisa pakan ikan.

Untuk informasi blog berikutnya silahkan Klik Disini

DAFTAR PUSTAKA

Darmanto dkk, 2000. Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian – Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. di download dari http ://defishery.files.wordpress.com/2009/11/budidaya-pakan-alami-untuk-benih-air-tawar.pdf.

Gusrina, 2008. Budidaya ikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta

Kartamiharja, E. S. 2013. Fenomena Dampak Upwelling Pada Usaha Budidaya Ikan dengan KJA di Danau dan Waduk.Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Workshop Pengelolaan Lingkungan Perikanan Budidaya di Perairan Umum. Bogor, 2-4 Oktober 2013.

Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 – 135.

Editor Tim Redaksi

Ditulis oleh : ADE YUNAIFAH A, SE (Widyaiswara BPPP Tegal)

Download

 

LITERASI BAHARI

Nasional

Literasi Bahari Wajib Digalakkan

    Redaktur: Ahmad Nugraha
  

Literasi Bahari Wajib Digalakkan - Nasional

Alan Frendy Koropitan, Ahli Oseanografi dari IPB

INDOPOS.CO.ID – Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kekayaan laut yang terkenal seantero negeri. Tidak heran jika pelabelan negara maritim begitu kental dengan Indonesia. Karenanya, literasi tentang kemaritiman sangat dibutuhkan untuk memperkuat identitas bangsa.

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Alan Frendy Koropitan mengatakan, penguatan karakter bangsa melalui kebijakan pendidikan nasional telah dilaksanakan melalui implementasi kurikulum kemaritiman.

Kini, kurikulum literasi bahari dengan muatan lokal telah diimplementasikan di 12 provinsi mulai jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA).

“Kemenko Kemaritiman bekerjasama dengan Kemendikbud. Jadi sudah setahun atau dua tahun. sebetulnya yang menarik dari budaya maritim ini adalah pemahaman kita tentang literasi. Umumnya kan hanya sebatas lisan yang sifatnya turun menurun,” ujarnya kepada INDOPOS melalui sambungan telepon, Selasa (15/1/2019).

Literasi yang dimaksud yaitu kemampuan untuk memahami tentang laut, khususnya dalam konteks kepulauan Indonesia. Tentu semangat maritim itu harus digalakkan pada setiap jenjang pendidikan. Sehingga dalam proses pendidikan, tidak hanya aspek pengetahuan saja. Tetapi karakter kepulauan yang bisa ditransfer ke anak didik.

Menurut dia, sebagai bangsa maritim semua komponen perlu menjadi pembelajar, penjelajah, dan pedagang yang selalu berinovatif. Sehingga menguasai wahana lautan serta melakukan pertukaran barang, jasa dan budaya.

“Ini hasil dari literasi maritim yang kuat. Kekayaan laut, baik hayati maupun non-hayati, bisa dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Ini semua dengan literasi bahari yang kuat dan ditanamkan sejak pendidikan usia dini, dasar dan menengah,” jelas Alan Frendy Koropita.

Dia menjelaskan, literasi ini penting dan harus sejalan dengan kearifan lokal. Sejatinya, kemajuan teknologi mesti menyesuaikan dengan kondisi kearifan lokal.

“Banyak sekali kearifan lokal di pesisir dan daratan. Sehingga ini yang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan,” jelas ahli oseanografi itu.

Untuk itu, literasi bahari sangat diperlukan masuk ke dalam kurikulum. Manfaatnya sangat banyak. Merangsang generasi muda untuk tertarik dan mau mempelajari lebih dalam lagi.

“Jadi, ini tidak dianggap kuno atau usang. Tergangtung kemasannya, dari sains teknologi moderen bisa mengelaborasi yang ujungnya ke daya saing bangsa terkait keaneka ragamaan hayati,” ungkap Lektor Kepala bidang Oseanografi Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan serta Koordinator Kajian Strategis di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu.

Upaya mengembangkan literasi bahari, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) akan meluncurkan buku keanekaragamaan hayati biodeversitas untuk Indonesia pada Juli mendatang. Pembahasannya akan menyinggung kearifan lokal itu.

“Nah, bagaimana kita memanfaatkan keaneka ragaman hayati atau biodeversitas atau keunggulan komparatif, sebagai modal kita untuk membangun. Pekerjaan rumah kita sebarapa besar memahamai kearifan lokal itu maupun sains moderns. Maka itu yang ditindak lanjuti,” terang mantan Ketua ALMI itu.

Sehingga bila memahami betul. Maka bukan tidak mungkin Indonesia punya obat-obatan industri basisnya bioteknologi. Namun, sumbernya dari kearifan lokal dari bahan biodeversitas yang ada di sekitar lingkungan.

“Jadi memang banyak tapi bagaimana merangsang keingin tahuan anak-anak siswa ini perlu kemasan. Salah satunya kurikukum dengan basis budaya maritim. Ya pelan pelan lah. Ini untuk dari paud hingga sma. Kontennya ada dalam bentuk buku. Masih diberlakukan di 12 provinsi tapi cukup menjanjikan kekayaan laut Indonesia,” tukasnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno merespon baik upaya pengembangan literasi bahari itu untuk diterapkan dalam aspek pendidikan.

“Alhamdulillah berarti sejalan dengan rencana IPB. Kami sangat terbuka untuk kerjasama,” jelas Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno.

Hingga saat ini, kurikulum kemaritiman telah diterapkan di 48 Sekolah Percontohan (12 PAUD, 12 SD, 12 SMP, 12 SMA/SMK) di 12 Kabupaten/Kota dari 13 provinsi di seluruh Indonesia. Tahun ini pemerintah merencanakan akan diperluas hingga 21 provinsi. info selengkapnya bisa di akses ke link DISINI

MONITORING TIM AMI LPMU UPS TEGAL KE FPIK

AMI-Audit Mutu Internal adalah proses pengujian yang sistematik, mandiri, dan terdokumentasi untuk memastikan pelaksanaan kegiatan di PT sesuai prosedur dan hasilnya telah sesuai dengan standar untuk mencapai tujuan institusi.
Selasa (23/Juli) tim AMI / audit mutu internal mendatangi ruang yang sudah dipersiapkan dari tim penyusun dokumen dan data. Hadir pada monitoring AMI di FPIK UPS Tegal adalah tim audit yang diketuai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPMU) UPS Tegal Dr. Beni Habibi, M.Pd dan Yanti Pujiastuti, SE, M.Si sebagai Auditor AMI, Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Ir. Suyono, M.Pi berikut Kepala Bidang  Penjaminan Mutu Internal  LPMU M.Syaefurochman, S.Si. M.Si. 
Dari beberapa temuan hasil tim monitoring AMI maka dokumen perlengkapan akreditasi akan dicocokan antara perencanaan yang sudah ada dengan pelaksanaan kegiatan / program untuk menghadapi akreditasi program studi di fakultas. Diharapkan dengan adanya AMI di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK – UPS Tegal) maka bisa ditingkatkan mutu atau kualitas pembelajaran di fakultas seperti Program Studi Budidaya Perairan dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan yang sudah terakreditasi B (Tim Redaksi (Juli/2019).

PENTINGKAH NILAI AKADEMIK BAGI MAHASISWA

Agar bisa memiliki Nilai Akademik yang baik mahasiswa harus memperhatikan dan mengerti materi – materi ajar yang diberikan oleh Dosen. Melaksanakan tugas – tugas yang telah diberikan dengan baik dan tepat waktu. Pahamilah setiap mata kuliah disetiap semester dan tugas yang diberikan. Karena itulah yang menjadi penilaian bagi Dosen selain dari kehadiran absensi, mid semester dan ujian akhir semester.

Jika mahasiswa memiliki keunggulan dibidang non akademis itu merupakan kekeliruan. Hanya karena minat dan bakat dalam bidang seni dan olahraga. Mahasiswa juga harus mampu dalam bidang akademik dan menyeimbangkan kemampuan akademik dan non akademik. “Dalam kegiatan kampus ada intrakurikuler dan esktrakurikuler. Intrakurikuler yaitu menyangkut kegiatan akademik dan Ekstrakurikuler yaitu menyangkut kegaitan diluar akademik pungkas kata Ibu Wakil Dekan I (Bidang Akademik FPIK-UPS Tegal) Ir. Sri Mulyani, M.Si di ruang kerjanya kepada Redaksi (19/ Juli).