Perkuliahan Mahasiswa FPIK UPS Tegal T.A 2019/2020

Pembukaan perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2019/2020 telah berlangsung  dengan baik dimana sebelumnya Dekanat dan Staf Dosen FPIK Universitas Pancasakti Tegal sudah berbenah dalam mempersiapkan kegiatan perkuliahan tahun akademik 2019/2020.

Kegiatan yang sudah terencana baik diantaranya adalah menerima dan mengarahkan secara akademik bagi mahasiswa yang sudah masuk semester ganjil ini, sehingga diharapkan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sudah siap untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan baik seperti juga praktek dan melakukan penelitian di laboratorium FPIK UPS.

Kemudian akan dilaksanakannya proses Akreditasi Progdi PSP dan BDP yang telah di Rekonstruksi dari Tim Akademisi dari berbagai lembaga yang berkompeten dibidangnya sehingga akan lebih menyesuaikan pada Kurikulum KKNI.

Rekonstruksi Kurikulum BDP (Budidaya Perairan)  FPIK UPS Tegal  pada hari Selasa (03/09) yang bertempat di Gedung Lt.1 H.102. Acara Rekonstruksi Kurikulum ini di Moderatori Dr. Ir. Sutaman, M.Si yang juga Dosen FPIK progdi BDP yang menjabat sebagai Dekan.

Sebagai Nara Sumber Rekonstruksi Kurikulum Progdi BDP adalah Dr. Petrus Hari Tjahya Purnama, M.Si Dosen dan Kepala Bidang Kurikulum FPIK Unsoed Purwokerto. Acara rekonstruksi kurikulum Progdi BDP juga diadakannya Penandatanganan Kerjasama / MoU Tentang “Pengembangan Pusat Study Kepiting Bakau Kerjasama antara Prodi BDP FPIK dan Sekolah Alam Kaliwlingi Pandansari Brebes”

Berbagai perubahan paradigma dalam menyusun / merekonstruksi kurikulum Budidaya Perikanan berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia / KKNI.

Tiga Fase Perkembangan Kurikulum

Artikel oleh Tim Redaksi / 03 September 2019

Riwayat pengembangan kurikulum telah melalui tiga fase sejak tahun 1994 (Kurikulum Nasional), tahun 2000/2002 (Kurikulum Inti dan Institusional), kemudian yang terakhir pada tahun 2012 (Kurikulum Pendidikan Tinggi). Tentunya perubahan yang ada merupakan suatu dinamika untuk suatu tujuan mulia yaitu menyiapkan generasi yang professional di bidangnya dan memiliki daya saing global.

Bagi perguruan tinggi yang lahir sebelum tahun 1994 maka akan mengalami 3 fase perubahan tersebut. Suatu upaya yang tidak mudah untuk mentransformasikan kurikulum dari suatu ke bentuk ke bentuk lainnya (sebagian lainnya mengatakan bahwa transformasi kurikulum adalah sangat mudah karena hanya fokus pada format atau narasi dalam penyusunannya).

Walaupun dalam penyusunannya telah melibatkan beberapa stakeholder / fihak-fihak yang berkepentingan. Toh, pada akhirnya mata kuliahnya tidak banyak berubah dan perlu penyesuaian sedikit saja (kata sebagian orang).

Namun, pernahkan terfikirkan oleh kita selaku pengajar, atau pengelola perguruan tinggi, atau pengambil keputusan bahwa kurikulum bukanlah hanya secarik kertas yang bisa dihapus atau disusun ulang mengikuti format baru yang ada, ia merupakan seperangkat alat pembelajaran yang mengintegerasikan berbagai sumberdaya untuk mengolah masukan menjadi luaran yang memiliki nilai tambah Sehingga ada konsekwensi di dalam pemberlakuannya.

Apakah kita semua bisa menjawab bahwa dengan pemberlakuan kurikulum baru maka akan meningkatkan daya serap lulusan oleh lapangan pekerjaan? Ataukah, dapat menaikan Indeks Prestasi Kumulatif lulusan mahasiswanya? Ataukah, dapat memetakan posisi perguruan tinggi kita dengan rumpun ilmu sejenis?

Tentu semua pertanyaan tersebut akan sulit kita jawab, karena tidak ada patokan resmi untuk mengukurnya secara numeris. Yang ada hanyalah patokan normatif yang tertera pada butir penilaian borang akreditasi perguruan tinggi. (mudah-mudahan pendapat saya tidak salah).

Dapat dikatakan juga bahwa acuan baku isi kompetensi pada kurikulum yang diterjemahkan ke dalam perangkat pembelajaran tidak sepenuhnya ada, sehingga apa yang terjadi adalah bahwa pengubahan kurikulum akan tergantung dari pengalaman dan pemahaman team penyusun kurikulum saja, atau akan tergantung juga dari para pemangku kepentingan yang ada, ataupun mencontek dari program studi yang telah lahir duluan (tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang mempengaruhinya).

Tidak jarang pemunculan atau penghilangan suatu mata kuliah demi tujuan prestise saja (karena issue nasional ataupun melebarkan sayap kompetensi tanpa fokus pada program studi yang ada). Bahkan tidak jarang, muatan inti pembelajaran yang ada telah bergeser jauh dari program studi yang ada. Hal ini terjadi karena beberapa faktor eksternal dan faktor internal di institusi pendidikan yang ada, walaupun rambu-rambu normatif telah ada.

Konsorsium perguruan tinggi yang ada lahir karena kesamaan sifat rumpun ilmu. Karena sifatnya sama maka budaya tiru-meniru kurikulum pun terjadi (bukan merupakan kekeliruan), namun jika ditilik lebih detail lagi maka akan berbeda karakteristik program studinya karena fasilitasnya berbeda, dosennya berbeda, mahasiswanya berbeda, perbedaan budaya dan pendanaannya.

Yang terjadi adalah bukannya saling mengisi kekosongan untuk membangun negara lewat pengayaan program studi, namun persaingan normatif, yang menurut hemat saya akan sulit untuk mengejar perbedaannya karena beberapa karakteristik dan parameter yang berbeda.

Sehingga pola pendekatan yang saya usulkan adalah keanekaragaman program studi dalam satu rumpun ilmu melalui penguatan karakteristik kompetensi lokalnya. Pola pendekatan ini tidaklah baru karena jalur pendidikan SMK telah memulainya terlebih dahulu (padahal dari sejarah lahirnya yang seharusnya menerapkannya terlebih dahulu adalah jalur pendidikan diploma).

Pola pendekatan ini tidak bersifat slogan atau normatif, karena bisa diukur melalui suatu nilai numeris untuk memetakannya. Alat ukurnya sudah ada di Indonesia melalui LSP-LMI, yang secara kebetulan sudah saya ikuti sejak tahun 2001 lewat proyek IAPSDP / Indonesia Australia Partership for Skill Development Program  (merupakan team kecil yang ada di Politeknik Manufaktur Bandung). [Dapat dibuka pada menu kompetensi blog ini] :

https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeNzI3YjBlZTktNDU4Ni00Y2EyLTgxODAtMTI2MzdjZWE1NDgz]